Kamis, 14 Juli 2011

MARAKNYA LEMBAR KOPIAN MIRACLE PALSU

Lembaran-lembaran palsu yang diedarkan tersebut tega menggunakan nama ustadz Yusuf Mansur, pada hal sama sekali tidak ada hubungan dengan program ustadz Pendiri dan Pengurus Pondok Pesantren Daarul Quran di Tangerang, Jawa Barat. Sebenarnya ini modus penipuan, dan tidak ada kaitannya dengan Ustadz Yusuf Mansur.

Lembaran awal brosur

Program yang ditawarkan, penerima harus memiliki rekening tabungan dan Kartu ATM di Bank BCA, Bank Mandiri, atau Bank BNI. Langkah selanjutnya, dianjurkan mengirim uang melalui transfer ATM ke 4 alamat yang sudah ada di bagian lembaran copy-an, masing-masing sebanyak Rp 20.000 atau total Rp 80.000.
Setelah itu, membuat kolom yang disebut sebagai ‘Investor Baru’ dengan mengeluarkan nama dan nomor rekening peserta IV dari kolom (disebut : Sangat Sejahtera) menggantikan dengan nama dan nomor rekening peserta III (Sejahtera). Kolom peserta III diisi dengan nama dan nomor rekening peserta II (Cukup Sejahtera). Nama dan nomor rekening Peserta I (Pra Sejahtera) dimasukkan ke kolom Peserta II. Kolom Peserta I yang kosong lalu diisi dengan nama dan nomor rekening Peserta Baru.

Setelah hal tersebut dilakukan, Peserta Baru dianjurkan untuk meng-copy sebanyak 100 sampai 300 lembaran ‘program’ kemudian dibagikan kepada umum. Dengan begitu, diharapkan orang-orang yang menerima lembaran ‘program’ akan melakukan hal yang sama, sehingga rekening tabungan orang-orang yang terlibat dalam program ini akan secara tak terduga akan menerima kiriman - dalam hitung-hitungannya, sampai lebih dari Rp 7 miliar dalam waktu 4 bulan.

Gambarannya enak sekali, tapi jika lembaran yang disebarkan mandeg, program copy-an tidak diteruskan.

Maka dalam hitungannya, setiap orang yang ikut program ini justru dapat merugi melepaskan duitnya termasuk digunakan untuk urusan fotocopy-an sampai lebih Rp 500.000 secara sia-sia. Tak ada yang bisa ditagih atau dimintai pertanggungjawaban.

Hitungan 'program' duit 

Jika disimak dengan baik, sebenarnya jika menggunakan akal sehat program ini sangat tidak layak dipercaya. Selain tak jelas penanggungjawabnya, juga hitung-hitungannya memang tidak rasional.

”Model perekrutan dana publik tak bertanggungjawab seperti ini sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa tahun sebelumnya. Tapi karena masih cukup besar hasrat orang-orang kita yang ingin kaya secara mendadak tanpa usaha, tanpa kerja, modifikasi pengumpulan uang publik melalui modus operandi seperti ini masih saja bisa terus berulang,” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pambudie™